jump to navigation

Ketika Internet Dan Gadget Lainnya Mendominasi Hidup Kita – Makin Jarang Gerak December 12, 2010

Posted by bucharimuslim in Computer, Just get bored, My Spare Time, Technology.
trackback

Pagi ini karena badan rasanya sedang tidak enak, maka Saya berusaha menghabiskan segala hal dengan di rumah saja. Dari mulai menelpon istri tercinta yang nun jauh di sana dan saling mengabarkan keadaan hingga browsing internet tentang hal-hal remeh temeh sampai akhirnya Saya merasakan kejenuhan dengan segala internet things. Ya internet dan segala tools pendukungnya. Semua teknologi ini makin menjauhkan kita dari segala aktifitas fisik yang digantikan dengan cukup ketik sana ketik sini dan sederetan klik klik klik.

Mungkin sadar atau tidak sadar saat ini kita, khususnya Saya telah menjadi lebih malas dibandingkan 5 atau 10 tahun yang lalu. Gampangnya begini saja deh, pada saat awal orang mencari kerja sekitar 10-15 tahun yang lalu para jobs seeker harus mendatangi instansi atau perusahaan yang membuka lowongan kerja (untuk generasi yang sempat menikmati menonton sinetron Si Doel yang diperankan oleh Rano Karno mungkin akan ingat dengan scene di mana Doel mendatangi setiap perusahaan dan submit lembaran CV nya ke perusahaan2 tersebut), belum lagi aktifitas menulis surat lamaran yang ditulis tangan atau diketik dengan mesin ketik (Saya tidak tahu apa beberapa instansi pemerintah masih memberlakukan hal ini terhadap seluruh calon pelamarnya?). Menurut Saya hal tersebut walaupun tidak banyak memberikan aktifitas fisik tetapi cukup membuat kita bergerak. Bandingkan dengan saat ini, untuk membuat resume cukup dengan mengetik di program pembuat dokumen, upload melalui situs karir perusahaan yang kita minati, website-website head hunter atau penyedia lowongan pekerjaan yang ada di seluruh dunia, dan tinggal tunggu hasilnya di dalam email box kita ataupun melalui handphone yang saat ini Saya yakin cukup melekat dari tubuh kita (keberadaannya tak lebih dari 2 meter jauhnya, bahkan sebagian orang menempel dengan mobile device ini berjam-jam).

Itu baru hal pencari kerja, bagaimana dengan orang-orang yang membutuhkan informasi? Hal serupa juga terjadi pada Saya, karena badan yang sedang tidak bersahabat – walaupun pada saat sedang sehat pun Saya tetap melakukan hal yang sama sih – untuk mendapatkan info dan berita dari hal-hal yang diminati seperti teknologi, politik dan gaya hidup misalnya. Cukup dengan menyalakan komputer jinjing, aktifkan koneksi internet, buka browser yang biasa kita gunakan dan kunjungi saja situs-situs yang bisa menyediakan info yang kita inginkan yang keberadaannya sangat banyak di jagad maya saat ini.

Hal ini sih masih belum extreme dengan yang dilakukan oleh peminat gadget yang lebih gila dari Saya, mereka bisa akses dari smartphone dan latest gadget seperti Apple iPad or Samsung TabĀ  tak hanya untuk mendapatkan info tapi juga mengakses koran -bahkan sebagian orang mengaksesnya saat buang hajat di rest room- seperti layaknya versi cetaknya, mungkin kita bisa membandingkan versi cetak hari ini dengan yang ada di sini. Hidup memang makin dimudahkan dengan kemudahannya.

Karena itulah maka pagi ini Saya berpikir, seharusnya dengan segala kemudahan yang telah ditawarkan teknologi internet dan segala penunjang pendukung, seharusnya ada yang bisa ditekan sebagai contoh jalanan di Jakarta seharusnya lebih lancar dibanding 10 tahun yang lalu (I wish), karena apa? karena banyak orang seperti Doel yang bisa submit CV dari rumah, membeli koran tidak harus dilakukan di agen-agen penjual, tidak perlu melakukan antrian di Disc Tara atau Aquarius Mahakam hanya untuk membeli CD dari musisi idola karena kita cukup download file-file mp3 dari situs-situs seperti iTunes dan Amazon dan itu legal, mau download atau sewa film? cukup kunjungi Netflix, untuk yang terakhir ini Saya hanya merekomendasikan untuk mereka yang memiliki koneksi super cepat. Kembali ke kemacetan Jakarta, ternyata pada kenyataannya tidak berbanding terbalik dengan makin banyaknya aktifitas yang bisa dilakukan di internet. Jakarta makin hari makin macet, orang-orang yang harusnya dapat melakukan perkerjaannya dari rumah harus tetap datang ke kantor hanya untuk memenuhi target absensi, yang dipikir-pikir sangat lucu pada pekerjaan bisa dilakukan di ranah maya.

Tapi mungkin itu adalah gambaran atau imajinasi Saya saja, karena Saya pun termasuk dari sekian banyak pekerja IT di Jakarta yang masih harus tetap on site walaupun segala perangkat untuk tidak masuk kantor telah disediakan oleh perusahaan tempat Saya bekerja. Mungkin ketakutan Saya pada saat berpikir tentang internet dan gadget pendukung lainnya yang telah mendominasi keseharian akan menjadikan Saya seperti Adam Sandler dalam film Click. Memang tidak seratus percent mirip sih, cuma saja bila kita makin -dan masih- malas untuk melakukan aktifitas fisik, maka jangan heran bila penerus kita di masa yang akan datang adalah mereka-mereka yang berbadan tambun dan susah bergerak.

Advertisement

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.